Minggu, 10 Januari 2010

Tingkat Kesadaran Manusia

Muhammad Rasulullah lahir dalam keadaan yatim sehingga sejak awal telah kehilangan figur ayah. Muhammad kecil kemudian juga kehilangan ibunya di usia enam tahun, sehingga lengkaplah beliau menjadi yatim piatu. Hal ini menjadikan beliau mulai belajar menjadi mandiri.

Muhammad kecil kecil mulai bekerja sebagai penggembala kambing. Ini adalah masa dimana beliau mulai merenungi kebesaran alam semesta. Sementara teman-teman sebayanya bermain di kota, Muhammad bekerja sendirian di luar kota. Ahli sejarah (tarikh) Islam mengatakan bahwa pekerjaan ini merupakan ‘rahmat terselubung’ (bless in disguise) yang memberikan dasar bagi Muhammad kecil untuk mengembangkan kecerdasan spiritualnya.

Sejarah para nabi menunjukkan ketakjuban atas alam semesta yang bercampur dengan kegelisahan dan kegamangan hidup akan menuntun seseorang untuk menyadari adanya kekuatan maha dahsyat yang menciptakan dan mengatur alam ini. Kita tengok kisah bapak para nabi, Ibrahim a.s., bagaimana Ibrahim kecil mulai menanyakan ‘siapakah’ kekuatan paling dahsyat di alam ini. Dia memulainya dengan menganggap bintang, kemudian matahari, kemudian sampai pada kesimpulan adanya Allah tuhan semesta alam yang Maha Besar, Maha Dahsyat, sekaligus Maha Mengatur alam semesta ini.

Hal yang sama terjadi pada Muhammad kecil. Kegelisahannya sebagai seorang yatim piatu menuntunnya untuk berpikir dan merasakan makna kehidupan yang ia alami. Inilah awal dari berpindahnya kesadaran Muhammad kecil dari sekedar kesadaran inderawi kepada kesadaran yang lebih tinggi.

Sebelumnya perlu kita ketahui dulu bahwa perkembangan kesadaran seseorang meningkat dari hanya memahami yang kelihatan (fisik) hingga memahami yang tak kelihatan (non fisik. Kesadaran yang paling rendah adalah kesadaran inderawi. Selanjutnya yang lebih tinggi adalah kesadaran rasional, lalu kesadaran spiritual, dan paling tinggi adalah kesadaran tauhid.

Kesadaran inderawi. Kesadaran inderawi adalah kesadaran yang sifatnya dipicu oleh panca indera. Melalui kesadaran ini maka kita bisa melihat matahari terbit dari sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Kesimpulan yang diambil dari kesadaran inderawi ini terbatas pada kemampuan indera kita.

Kesadaran rasional. Ternyata setelah indera kita tak mampu lagi menjelaskan, manusia bisa naik ke tingkat kesadaran berikutnya yaitu kesadaran rasional. Kesadaran rasional ini menggunakan pikiran untuk menjangkau sesuatu yang tak terjangkau indera. Misalnya, secara inderawi kita hanya mampu melihat bahwa matahari terbit dari timur dan terbenam di barat. Dengan menggunakan akal, dibantu dengan alat-alat yang lebih canggih, manusia kemudian dapat membuat kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bumi berotasi ke arah timur, dan bahkan bumi mengelilingi matahari. Manusia dengan bantuan teleskop melihat adanya kejanggalan-kejanggalan alam yang tidak bisa dijelaskan bila matahari mengelilingi bumi. Karena itu dengan kemampuan berpikir rasional manusia dapat mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya bumi berotasi ke timur (dan akibatnya seakan-akan matahari mengelilingi bumi). Dengan melihat kedudukan bintang-bintang sepanjang tahun, para astronom akhirnya berkesimpulan bahwa bumi lah yang mengelilingi matahari. Dengan kemampuan pikiran rasional pula manusia yakin bahwa bumi tidak datar, tapi bulat. Setelah ditemukannya teleskop yang mampu melihat benda langit (planet lain), manusia semakin yakin bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti perkiraan sebelumnya. Kita dapat melihat bahwa dengan kemampuan rasional manusia dapat mengambil kesimpulan jauh di luar apa yang dapat sicapai dengan indera. Ibaratnya kesadaran inderawi menggunakan mata fisik, kesadaran rasional menggunakan mata pikiran. Pada kesadaran rasional inilah muncul pengetahuan ilmiah.

Kesadaran spiritual. Ketika manusia bahkan dengan pikiran rasionalnya tak mampu lagi membuat penjelasan, maka dia akan naik ke tingkat kesadaran spiritual. Kini para ahli telah mengembangkan teori big bang untuk menjelaskan terjadinya alam semesta. Teleskop luar angkasa Hubble telah memeberikan bukti betapa dahsyat dan luasnya alam semesta. Namun kesadaran rasio manusia tak akan mampu menjelaskan ada apa di luar tepi-tepi batas semesta, ada apa sedetik sebelum big bang terjadi, dan apa tujuannya terjadi alam yang luas dengan bumi yang setitik debu di dalamnya ini. Semua kelelahan kesadaran rasional itu membawa manusia ke tingkat kesadaran spiritual, yaitu menyadari adanya sesuatu yang maha dahsyat di balik semua yang tak terjangkau rasio itu. Inilah kesadaran yang mengakui keberadaan Tuhan. Di sinilah muncul pengetahuan nurani atau suara hati.

Kesadaran Tauhid. Namun kesadaran spiritual belum tentu menghasilkan kesimpulan yang benar. Pada jaman purba, manusia menyembah berhala, kekuatan alam seperti gunung dan matahari, atau kekuatan roh seperti jin. Semakin moderen mulailah muncul kepercayaan atas dewa-dewa, yaitu bahwa pada setiap benda/makhluk ada tuhannya masing-masing. Ada tuhan pohon, angin, monyet, tikus, dan sebagainya. Memang untuk level kesadaran spiritual ini manusia membutuhkan petunjuk wahyu, suatu yang di luar akal manusia, bahkan di luar nurani. Kecerdasan spiritual yang berdasarkan hati nurani masih bisa menyesatkan, misalnya pada kebudayaan Aztek manusia dikorbankan kepada dewa matahari melalui keyakinan yang didasarkan suara hati. Pada tingkatan tertentu, suara hati tak lagi mampu. Misalnya, mengapa kita tega menyembelih kambing? Bukankah suara hati kita miris dan menganggapnya kekejaman? Alasan kuat kita yakin bahwa menyembelih kambing itu sesuatu yang benar (walaupun suara hati memprotesnya) adalah karena tuntunan agama wahyu. Wahyu mengatakan bahwa menyembelih kambing atas nama Allah adalah sah, sedangkan memenggalnya (bukan menyembelih) atau mengatasnamakan berhala adalah sesuatu yang haram. Pengetahuan pada level kesadaran Tauhid ini bukan sekedar pengetahuan yang didasarkan pada kesadaran spiritual, namun lebih tinggi lagi karena menjawab persoalan yang terus tak terjawab oleh kesadaran spiritual. Misalnya, apakah tuhan itu banyak? Berapa banyak? Apa sih yang diinginkan tuhan? Mengapa sih manusia diciptakan? Kemana sih kita setelah mati? Semuanya itu dijawab melalui wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul.

Penelitian moderen menunjukkan bahwa konsep ketuhanan jamak (dewa-dewa) atau tuhan yang lebih dari satu mudah sekali dipatahkan dengan bukti-bukti pengetahuan moderen. Pengetahuan kuno menganggap bahwa manusia, binatang, gunung, dan pohon memiliki materi yang berbeda, karena itu punya tuhan masing-masing. Pengetahuan moderen menunjukkan bahwa semua hal itu sebenarnya adalah sama, mempunyai unsur dasar elektron, proton, dan netron. Bahkan elektron, proton, dan netron itupun diduga punya penyusun sama. Saat ini materi penyusun inti atom terkecil yang telah disepakati para ahli adalah suatu pilinan energi yang disebut quark. Jadi apa yang ada di alam semesta ini pada esensi terkecilnya mempunyai kesamaan dan keteraturan yang luar biasa! Alam makrokosmos dimana terdapat matahari, bumi, bulan, dan lainnya mempunyai perilaku persis sama dengan alam mikrokosmos yang terdiri dari elektron, proton, dan netron. Bumi berotasi sambil mengelilingi matahari. Matahari dan semua planet di tata surya kita, secara bersamaan juga bergerak melingkar mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima sakti ini juga bergerak melingkari\ mengelilingi pusat alam semesta. Pada alam mirokosmos pun demikian. Pada bagian tubuh kita yang terkecil yaitu dalam bentuk atom karbon, elektron bergerak mengelilingi inti. Lihatlah betapa ada kesamaan luar biasa dari hukum-hukum alam ini baik dalam alam makro maupun mikro. Lihat pula betapa esensi manusia ternyata sama saja dengan binatang, kayu, bahkan intan, yaitu susunan atom karbon. Dengan bukti ini mustahil semua itu diciptakan oleh banyak dewa. Mustahil ada dewa angin mencipta angin, ada dewa monyet mencipta monyet. Bahkan mustahil ada dua tuhan, karena seluruh alam ini ternyata mempunyai hukum yang teratur dan konsisten. Andai ada dua tuhan saja, pasti terjadi banyak ketidakteraturan! Di sinilah wahyu yang sudah diturunkan sejak ribuan tahun lalu mendapatkan bukti lebih kuat dengan pengetahuan manusia moderen. Bagaimana para nabi bisa tahu tentang dzat yang Maha Tunggal padahal waktu itu tidak dikenal galaksi maupun atom? Itulah pengetahuan dari wahyu. Level yang lebih tinggi daripada pengetahuan dari bisikan suara hati.

Pada level kesadaran Tauhid, seseorang akan takjub menemukan bahwa Tuhan yang maha Tunggal, yaitu Allah swt, hadir dimana-mana dan dengan kuasanya terus menjaga keteraturan itu. Bayangkan kalau Allah tidak menghendaki keteraturan ikatan atom, maka dalam sekejap seluruh alam semesta ini terburai hancur. Tubuh manusia yang tampan, cantik, menarik, yang berjabatan presiden, artis, maupun gelandangan, semuanya dalam sekejap akan terburai menjadi entah apa. Hanya karena kemurahan Allah lah semua di alam bisa berlaku seperti sekarang ini. Pada tingkatan kesadaran ini maka seseorang akan merasakan kehadiran Allah di setiap tarikan nafasnya, kegiatannya, bahkan pikirannya. Semua itu hanya karena Allah swt, dzat yang Maha Tunggal.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites